RBF, GIZ, Hi Incubator, dan CAST Foundation Luncurkan Implementasi Program Beras SAE AWD untuk Dekarbonisasi Lahan Padi

Di lahan sawah Dusun Brebah, Desa Jogotirto, Sleman, DIY, program dekarbonisasi berbasis teknik Alternate Wetting and Drying (AWD) resmi bergulir — menandai dimulainya pertanian padi rendah emisi di tingkat petani.

Sleman, 6 Mei 2026 — Yayasan Rabu Biru Indonesia (RBF), selaku Lead Implementer dan Sub-Grantee, secara resmi memulai implementasi program Beras SAE AWD (Sustainable Agriculture & Environment — Alternate Wetting and Drying) bersama GIZ (Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit), Hi Incubator, dan CAST Foundation. Penandatanganan MoU pada 1 Mei 2026 dengan dua mitra agritech — IndraAgri dan BIOPS Agrotekno Indonesia — menjadi tonggak awal kolaborasi lintas sektor dalam menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) dari sektor pertanian padi. Sebagai lokasi pilot pertama, program ini dilaksanakan bersama Kelompok Tani Sedyo Makmur 2 di lahan sawah Dusun Brebah, Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Program Beras SAE AWD menerapkan teknik Alternate Wetting and Drying (AWD) — metode otomisasi pengelolaan air sawah yang terbukti mampu menekan emisi metana (CH₄) hingga 30 – 50% tanpa mengurangi produktivitas hasil panen. Melalui kunjungan lapangan intensif pada 27 April – 1 Mei 2026, tim konsorsium telah melakukan pemetaan awal terhadap kondisi lahan, infrastruktur irigasi, dan praktik budidaya petani. IndraAgri menghadirkan solusi teknologi presisi pertanian, sementara BIOPS Agrotekno Indonesia berperan dalam pemantauan agronomi berbasis digital, keduanya terintegrasi dalam sistem Monitoring, Reporting, and Verification (MRV) yang dikembangkan bersama Hi Incubator dan CAST Foundation.

"Program Beras SAE AWD adalah bukti nyata bahwa pertanian padi Indonesia dapat sekaligus produktif dan ramah iklim. Kolaborasi RBF bersama GIZ, Hi Incubator, CAST Foundation, IndraAgri, dan BIOPS mencerminkan pendekatan konsorsium yang solid untuk perubahan nyata di lapangan." — Jerry Kartamuhari, Perwakilan Yayasan Rabu Biru Indonesia (RBF)

Sosialiasi bersama Ibu Lurah Brebah dan Gapoktan Sedyo Makmur 2, Jogotirto, Sleman, DIY

Sosialiasi bersama Ibu Mitha Mayasari, S.Psi., Kepala Kalurahan Jogotirto dan Gapoktan Sedyo Makmur 2, Brebah, Jogotirto, Sleman, DIY.

Ke depan, program ini akan berfokus pada tiga pilar utama: pengurangan emisi metana sawah melalui teknik AWD yang terstandarisasi, peningkatan kapasitas petani dalam praktik pertanian rendah karbon, serta pengembangan sistem MRV berbasis teknologi digital untuk pelaporan yang akuntabel. Seluruh kegiatan akan dilaksanakan sejalan dengan komitmen iklim Indonesia dalam kerangka Nationally Determined Contribution (NDC) dan agenda Asta Cita pemerintah, dengan pelaporan kemajuan berkala kepada GIZ, Hi Incubator, CAST Foundation, dan seluruh pemangku kepentingan terkait.

Next
Next

1000 Hari yang Menentukan Segalanya: Kemenkes Resmikan Konsorsium Nasional untuk Percepat Peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak